Memasuki fase pembenihan, momen yang paling dinantikan oleh setiap pembudidaya adalah melihat indukan berhasil bertelur secara maksimal. Foto di atas menunjukkan salah satu koleksi indukan produktif di
Halina Farm yang sedang berada di fase krusial, yaitu menggendong ribuan calon burayak (anak lobster) di bawah abdomennya.
Pada fase ini, indukan lobster memerlukan perhatian ekstra. Pipa shelter PVC yang aman harus dipastikan tersedia dalam jumlah cukup agar indukan tidak stres atau merasa terganggu oleh lobster lainnya. Selain itu, menjaga kualitas sirkulasi air tetap bersih dan menyuplai pakan alami bernutrisi tinggi sangat penting agar telur-telur ini bisa menetas dengan persentase keberhasilan (hatching rate) yang tinggi.
Dari butiran telur hingga menjadi burayak yang siap mandiri, di sinilah pondasi awal kesuksesan kapasitas produksi sirkulasi kolam kita dimulai!
Linimasa & Proses Pengeraman Telur (Gendong Telur)
Proses dari telur pertama kali keluar hingga menetas menjadi burayak yang mandiri biasanya memakan waktu sekitar 4 hingga 5 minggu (kurang lebih 30–35 hari), tergantung pada kestabilan suhu air kolam. Fase ini terbagi menjadi beberapa tahapan perubahan warna telur:
Minggu ke-1 (Fase Awal): Telur baru keluar dan menempel di kaki renang (abdomen) indukan. Biasanya berwarna kuning cerah atau oranye. Pada fase ini, telur masih sangat rawan rontok jika indukan stres.
Minggu ke-2 sampai ke-3: Warna telur akan berubah perlahan menjadi cokelat kemerahan, lalu berangsur menjadi cokelat tua kehitaman. Di fase ini, bintik mata calon burayak sudah mulai terlihat jelas.
Minggu ke-4 (Menetas): Telur mulai menetas menjadi larva. Bentuknya menyerupai lobster mini, namun mereka masih menempel erat pada kaki renang induknya karena masih menyerap cadangan makanan (yolk sac).
Minggu ke-5 (Lepas Gendong): Burayak sudah berbentuk lobster sempurna dan mulai melepaskan diri dari induknya untuk mencari makan sendiri di dasar kolam.
Tips Khusus Merawat Indukan Gendong Telur di Halina Farm
Agar persentase penetasan (hatching rate) tinggi dan telur tidak rontok di tengah jalan, berikut adalah SOP perawatan yang wajib diterapkan:
1. Karantina ke Kolam Khusus (Suhu Stabil)
Sangat disarankan untuk memisahkan indukan yang sudah positif gendong telur ke kolam karantina mandiri (satu indukan satu sekat, atau disatukan dengan sesama indukan gendong telur saja). Jika budidaya dilakukan di dalam ruangan (indoor), keuntungan kita adalah suhu air jauh lebih stabil. Kestabilan suhu ini sangat krusial karena perubahan suhu yang drastis bisa membuat indukan stres dan membuang telurnya.
2. Sediakan Shelter PVC yang Cukup
Pastikan di kolam karantina tersedia shelter pipa PVC yang pas dengan ukuran tubuh indukan. Tempat bersembunyi yang gelap dan privat akan membuat indukan merasa aman dan fokus mengerami telurnya tanpa gangguan.
3. Manajemen Pakan Nutrisi Tinggi & Pakan Alami
Indukan yang sedang menggendong telur tetap butuh makan, namun porsinya tidak sebanyak biasanya.
Tetap berikan pelet berkualitas dalam jumlah sedikit agar tidak mengotori air.
Sandingkan dengan pakan hijau alami seperti tanaman Wolffia. Keunggulan Wolffia di kolam karantina adalah tanaman ini bisa mengapung di permukaan tanpa merusak kualitas air, sekaligus menjadi sumber nutrisi segar yang bisa camil kapan saja oleh indukan tanpa membuatnya harus sering keluar dari shelter.
4. Minimalisir Goncangan dan Sentuhan
Jangan terlalu sering mengangkat atau menyenter indukan yang sedang gendong telur (seperti pada foto di atas, cukup lakukan sesekali saja saat pengecekan fase). Goncangan atau stres berlebih dapat memicu indukan melakukan egg-dropping (menggugurkan telurnya sendiri sebelum waktunya).